Komunikasi resmi pertama antara Eropa Barat dan Kekaisaran Mongol terjadi antara Paus Innosensius IV (menjabat 1243–1254) dan para Khan Agung, melalui surat dan utusan yang dikirim lewat darat dan bisa memakan waktu bertahun-tahun untuk sampai di tujuan. Komunikasi ini mengawali apa yang kemudian menjadi pola dalam komunikasi bangsa Eropa-Mongol: bangsa Eropa meminta orang-orang Mongol untuk masuk Kristen, dan orang-orang Mongol akan menanggapinya dengan tuntutan pernyataan tunduk.[9][17]

Invasi Mongol ke Eropa berakhir tahun 1242, salah satunya karena kematian Khan Agung Ögedei, penerus Jenghis Khan. Ketika seorang Khan Agung wafat, para pemimpin Mongol dari seluruh wilayah kekaisaran dipanggil kembali ke ibu kota untuk memutuskan siapa yang akan menjadi Khan Agung berikutnya.[18] Sementara itu, pergerakan tentara Mongol tanpa henti ke arah barat telah menggulingkan Dinasti Turk Khwarazmia. Orang Turk Khwarazmia sendiri juga bergerak ke barat dan akhirnya bersekutu dengan Muslim Ayyubiyah di Mesir.[19] Di sepanjang perjalanannya, pasukan Turk merebut Yerusalem dari pihak Kristen pada tahun 1244. Setelah kekalahan berikutnya dalam Pertempuran La Forbie, raja-raja Kristen mulai mempersiapkan perang salib baru (Perang Salib Ketujuh), yang dikumandangkan oleh Paus Innosensius IV pada Juni 1245 dalam Konsili Lyon Pertama.[20][21] Jatuhnya Yerusalem menyebabkan segelintir bangsa Eropa memandang orang-orang Mongol sebagai sekutu potensial bagi Dunia Kristiani, asalkan orang-orang Mongol mau beralih keyakinannya ke agama Kekristenan Barat.[4] Pada Maret 1245, Paus Innosensius IV mengeluarkan beberapa bula kepausan, beberapa di antaranya dikirim bersama seorang utusan, Giovanni da Pian del Carpine dari ordo Fransiskan, kepada "Kaisar bangsa Tartar". Dalam sebuah surat yang sekarang disebut Cum non solum, Paus Innosensius mengungkapkan harapan bagi perdamaian, dan meminta penguasa Mongol untuk menjadi seorang Kristen dan berhenti membunuh orang-orang Kristen.[22] Namun, Khan Agung Mongol yang baru Güyük, yang dilantik di Karakorum pada tahun 1246, hanya menjawab dengan permintaan agar sang paus tunduk padanya, dan meminta kunjungan dari para penguasa Barat sebagai penghormatan kepada kekuasaan Mongol:[23]

Anda harus mengatakan dengan hati yang tulus: "Saya akan tunduk dan mengabdi kepada Anda." Anda sendiri, sebagai pemimpin semua Pangeran, datang sekaligus untuk mengabdi dan melayani kami! Pada saat itu saya akan mengakui pernyataan tunduk Anda. Jika Anda tidak mematuhi perintah Tuhan, dan jika Anda mengabaikan perintah saya, saya akan menganggap Anda sebagai musuh saya.

— Surat Güyük Khan kepada Paus Innosensius IV, 1246[24]

Misi kedua yang dikirim pada tahun 1245 oleh Paus Innosensius dipimpin oleh Ascelin dari Lombardia, pengikut Ordo Dominikan,[25] yang bertemu dengan panglima Mongol Baiju di dekat Laut Kaspia pada tahun 1247. Baiju, yang memiliki rencana untuk merebut Baghdad, menyambut kemungkinan persekutuan dan mengirim pesan ke Roma melalui utusannya, Aïbeg dan Serkis. Mereka kembali setahun kemudian bersama surat Paus Innosensius, Viam agnoscere veritatis, yang mengimbau orang-orang Mongol agar "menghentikan ancaman mereka".[26][27]

Vasal-vasal Kristen yang tunduk pada bangsa Mongol[sunting | sunting sumber]

Ketika orang-orang Mongol di Ilkhanat terus bergerak menuju Tanah Suci, kota demi kota jatuh ke tangan orang Mongol. Pola khas orang Mongol adalah memberi satu kali kesempatan untuk menyerah bagi sebuah wilayah. Jika target itu menyetujuinya, orang Mongol akan menyerap penduduk dan prajurit ke dalam pasukan Mongol mereka sendiri, yang kemudian akan mereka gunakan untuk memperluas kekaisarannya. Jika sebuah daerah tidak mau menyerah, orang Mongol dengan paksa akan merebut permukiman atau perkampungan dan membantai semua orang yang mereka temukan.[28] Dihadapkan pada pilihan tunduk atau bertempur dengan gerombolan Mongol di dekatnya, banyak daerah yang memilih tunduk, termasuk beberapa kerajaan Kristen.[29]

Georgia yang beragama Kristen berulang kali diserang mulai tahun 1220, dan pada tahun 1243 Ratu Rusudani secara resmi tunduk kepada Mongol, mengubah Georgia menjadi sebuah negara vasal yang kemudian menjadi sekutu tetap dalam penaklukan militer Mongol.[30] Hethum I dari Armenia Silisia tunduk pada tahun 1247, dan selama tahun-tahun berikutnya mendorong para raja lain untuk masuk ke dalam persekutuan Kristen-Mongol.[31][32][33][34][35] Dia mengutus saudara laki-lakinya Sempad ke istana Mongol di Karakorum, dan surat-surat Sempad yang positif mengenai bangsa Mongol berpengaruh di kalangan bangsa Eropa.[36]

Antiokhia[sunting | sunting sumber]

Kepangeranan Antiokhia merupakan salah satu Negara Tentara Salib paling awal, didirikan pada tahun 1098 selama Perang Salib Pertama. Pada saat pasukan Mongol maju, kepangeranan ini berada di bawah kekuasaan Bohemond VI. Di bawah pengaruh ayah mertuanya, Hethum I, Bohemond juga tunduk kepada Hulagu pada tahun 1260.[31][37][38] Perwakilan dan garnisun Mongol ditempatkan di ibu kota kepangeranan tersebut di Antiokia. Mereka menempati kota tersebut sampai kepangeranan ini dihancurkan oleh Mamluk pada tahun tahun 1268.[39][40] Bohemond juga diminta oleh orang-orang Mongol untuk menerima pengembalian jabatan Euthymius sebagai Patriark Ortodoks Yunani guna memperkuat ikatan antara orang Mongol dan Romawi Timur. Sebagai imbalan atas kesetiaan ini, Hulagu menganugerahi Bohemond seluruh wilayah Antiokhia yang sebelumnya jatuh ke tangan Muslim pada tahun 1243.[41] Namun, akibat hubungannya dengan bangsa Mongol, Bohemond juga diekskomunikasi oleh Jacques Pantaléon, Patriarkat Latin Yerusalem, meskipun kemudian ekskomunikasi ini dicabut pada tahun 1263.[42]

Sekitar tahun 1262 atau 1263, pemimpin Mamluk Baibars mencoba melancarkan serangan terhadap Antiokhia, tetapi kepangerannya diselamatkan melalui campur tangan Mongol.[43] Pada tahun-tahun berikutnya, orang-orang Mongol tidak dapat membantu seperti sebelumnya. Pada tahun 1264–1265, pasukan Mongol hanya mampu menyerang benteng perbatasan al-Bira. Pada tahun 1268 Baibars menduduki seluruh Antiokhia dan mengakhiri riwayat kepangeranan yang telah berusia 170 tahun tersebut.[44][45]

Pada tahun 1271, Baibars mengirim sepucuk surat kepada Bohemond yang mengancamnya dengan penghancuran total dan mengejeknya karena persekutuannya dengan pasukan Mongol:

Bendera kuning kami telah memukul mundur bendera merah Anda, dan suara lonceng telah digantikan oleh seruan: "Allâhu Akbar!" ... Peringatkan tembok dan gereja Anda bahwa mesin pengepungan kami segera akan berhadapan dengan mereka, para kesatria Anda bahwa pedang kami akan segera menyinggahi diri mereka di rumah mereka ... Kita kemudian akan melihat apa gunanya persekutuan Anda dengan Abagha.

— Surat dari Baibars kepada Bohemond VI, tahun 1271[46]

Bohemond dibiarkan tanpa wilayah kekuasaan kecuali Comitatus Tripolitanus, yang belakangan juga jatuh ke tangan Mamluk pada tahun 1289.[47]

Santo Louis dan Mongol[sunting | sunting sumber]

Louis IX dari Prancis telah menjalin komunikasi dengan orang Mongol selama perang salibnya sendiri. Selama ekspedisi pertamanya ke negara-negara Tentara Salib (yang juga disebut "Outremer"), ia bertemu dengan dua utusan Mongol, yaitu para penganut Nestorianisme dari Mosul yang bernama Daud dan Markus, pada 20 Desember 1248 di Siprus. Para utusan tersebut membawa sepucuk surat dari panglima Mongol di Persia, Eljigidei.[48] Surat itu ditulis dalam nada bahasa yang lebih berdamai daripada tuntutan Mongol sebelumnya, dan utusan Eljigidei menyarankan agar Raja Louis mengerahkan pasukannya ke Mesir sewaktu Eljigidei menyerang Baghdad, sebagai cara untuk mencegah kaum Muslim Mesir dan Syam bersatu.[49] Louis menanggapinya dengan mengirim utusannya, André de Longjumeau, untuk menghadap Khan Agung Güyük, tetapi Güyük meninggal akibat diracun atau mungkin karena sebab alami[50] sebelum sang utusan tiba di istananya. Istri mendiang Güyük yang menjanda, Oghul Qaimish, hanya memberi hadiah kepada utusan dan sepucuk surat dengan nada yang merendahkan untuk dibawa kembali kepada Raja Louis; surat tersebut memerintahkannya untuk terus mengirim upeti setiap tahun.[51][52][53]

Perang yang dikobarkan Raja Louis terhadap Mesir tidak berjalan dengan baik. Dia berhasil merebut Damietta, tetapi kehilangan seluruh pasukannya dalam Pertempuran Al Mansurah, dan dia sendiri ditawan oleh pasukan Mesir. Pembebasannya akhirnya dinegosiasikan dengan imbalan sejumlah uang tebusan (beberapa di antaranya merupakan pinjaman dari para anggota Kenisah) dan penyerahan kota Damietta.[54] Pada tahun 1253, Raja Louis berusaha menjalin persekutuan dengan kelompok Hassasin Ismailiyah dan pasukan Mongol.[55] Ketika dia membaca sepucuk surat dari saudara laki-laki Hethum, yaitu seorang bangsawan Armenia Sempad yang fasih berbahasa Mongol, Louis mengirim tokoh Fransiskan William dari Rubruck ke istana Mongol. Namun, pemimpin Mongol Möngke hanya menjawab dengan sepucuk surat melalui William pada tahun 1254 yang meminta pernyataan tunduk Raja kepada kekuasaan Mongol.[56]

Louis mencoba melancarkan perang salib keduanya (Perang Salib Kedelapan) pada tahun 1270. Pemimpin Ilkhanat Mongol, Abaqa, menulis surat kepada Louis IX untuk menawarkan bantuan militer segera setelah Tentara Salib mendarat di Palestina, tetapi Louis dan pasukannya malah bergerak ke Tunis. Niatnya saat itu tampak jelas, yakni untuk menaklukkan Tunis terlebih dahulu, dan kemudian menggerakkan pasukannya di sepanjang pesisir untuk mencapai Iskandariyah di Mesir.[57] Sejarawan Prancis Alain Demurger dan Jean Richard mengemukakan bahwa perang salib ini mungkin masih merupakan upaya koordinasi dengan pasukan Mongol, karena Louis mungkin telah menyerang Tunis alih-alih Syam setelah mendapatkan pesan dari Abaqa bahwa dia tidak akan dapat mengerahkan pasukannya pada tahun 1270 dan memintanya untuk menunda serangan ke tahun 1271.[58][59] Para utusan dari Kaisar Romawi Timur, Armenia, dan Abaqa hadir di Tunis, tetapi rencana-rencana untuk melanjutkan perang salib berakhir setelah Louis meninggal karena sakit.[59] Menurut legenda, kata terakhir yang diucapkannya adalah "Yerusalem".[60]

Hubungan dengan Ilkhanat[sunting | sunting sumber]

Hulagu (1256–1265)[sunting | sunting sumber]

Hulagu Khan, cucu Jenghis Khan, adalah seorang penganut Syamanisme yang taat, tetapi sangat toleran terhadap Kekristenan. Ibunya yang bernama Sorghaghtani Beki, istri kesayangan dari Doquz Khatun, dan beberapa pendukung terdekatnya adalah pengikut Kristen Nestorian. Salah satu panglimanya yang paling penting, Kitbuqa, adalah seorang Kristen Nestorian dari suku Naiman.[61] Kerja sama militer antara Mongol dengan vasal-vasal Kristen mereka menjadi semakin penting pada tahun 1258–1260. Pasukan Hulagu bersama dengan pasukan dari vasal-vasal Kristennya (Bohemond VI dari Antiokhia, Hethum I dari Armenia, dan orang-orang Georgia) berhasil menghancurkan dua dinasti Muslim paling kuat pada zaman itu: Abbasiyah di Baghdad dan Ayyubiyah di Syam.[16]

Kejatuhan Baghdad (1258)[sunting | sunting sumber]

Pasukan Mongol menyerang Baghdad (1258)

Kekhalifahan Abbasiyah (yang didirikan oleh Abu al-'Abbās 'Abdu'llāh bin Muhammad as-Saffāḥ, canggah dari paman Muhammad, Abbas, pada tahun 749) sempat memerintah kawasan timur laut Afrika, Jazirah Arab, dan Timur Tengah, meskipun kekuasaan mereka pada tahun 1258 menyusut menjadi hanya Irak selatan dan tengah. Pusat kekuasaan Abbasiyah selama hampir 500 tahun adalah Baghdad, sebuah kota yang dianggap sebagai salah satu kota terbesar dan paling kuat di dunia. Namun, kota ini jatuh ke tangan Mongol pada 15 Februari 1258, sebuah kekalahan yang sering dianggap dalam dunia Muslim sebagai peristiwa musibah terbesar dalam sejarah Islam dan akhir dari Zaman Kejayaan Islam. Orang-orang Georgia merupakan yang pertama yang berhasil menembus tembok kota tersebut, dan seperti yang dijelaskan oleh sejarawan Steven Runciman, "sangat ganas dalam menghancurkan".[62] Setelah Hulagu menaklukkan kota tersebut, pasukan Mongol menghancurkan bangunan, membakar seluruh daerah perkotaan, dan membantai hampir semua pria, perempuan, dan anak-anak. Walaupun begitu, berkat intervensi Doquz Khatun, para penduduk Kristen selamat.[63]

Hulagu dan Ratu Doquz Khatun digambarkan sebagai "Konstantinus dan Helen" yang baru, dalam sebuah Alkitab berbahasa Suryani[64][65]

Bagi orang Kristen Asia, kejatuhan Baghdad adalah hal yang patut dirayakan.[66][67][68] Hulagu dan istrinya yang beragama Kristen dianggap sebagai utusan Tuhan dalam melawan musuh-musuh Kekristenan,[67] dan mereka bahkan dibandingkan dengan Kaisar Kristen abad ke-4 yang berpengaruh, Konstantinus Agung, dan ibundanya yang dihormati, Santa Helena. Sejarawan Armenia Kirakos Gandzaketsi memuji pasangan kerajaan Mongol ini dalam naskah-naskah untuk Gereja Armenia,[64][66][69] dan Bar Hebraeus, uskup dari Gereja Ortodoks Siria, juga menyebut mereka sebagai Konstantinus dan Helena, dan menulis mengenai Hulagu bahwa tidak ada yang dapat dibandingkan dengan "raja di antara segala raja" dalam "kebijaksanaan, keluhuran budi yang tinggi, dan perbuatan hebat".[66]

Invasi ke Syam (1260)[sunting | sunting sumber]

Setelah Baghdad, pada tahun 1260 pasukan Mongol bersama bawahan Kristennya menaklukkan Syam, wilayah kekuasaan Dinasti Ayyubiyah. Mereka bersama-sama merebut kota Aleppo pada Januari, dan pada Maret, pasukan Mongol bersama orang-orang Armenia dan Franka Antiokhia merebut Damaskus, dan pasukan gabungan tersebut dipimpin oleh Jenderal Mongol Kristen Kitbuqa.[16][39] Dengan hancurnya Dinasti Abbasiyah dan Ayyubiyah, sejarawan Steven Runciman menjelaskan bahwa kawasan Timur Tengah "tidak pernah lagi mendominasi peradaban."[70] Sultan Ayyubiyah terakhir An-Nasir Yusuf meninggal tidak lama setelah itu, dan dengan hilangnya pusat-pusat kekuatan Islam di Baghdad dan Damaskus, pusat kekuatan Islam beralih ke Kesultanan Mamluk di Kairo.[16][71] Namun, sebelum pasukan Mongol dapat melanjutkan perjalanan mereka menuju Mesir, mereka harus mundur karena kematian Khan Agung. Hulagu harus kembali ke ibu kota dan membawa sebagian besar pasukan bersamanya, meninggalkan pasukan kecil di bawah Kitbuqa untuk menduduki Palestina selama ia pergi. Rombongan penyerbu Mongol dikirim ke selatan sampai Palestina menuju Mesir, dengan garnisun kecil pasukan Mongol yang terdiri dari sekitar 1.000 tentara ditempatkan di Gaza.[39][72][73]

Pertempuran Ain Jalut[sunting | sunting sumber]

Kitbuqa mengepung Sidon setelah pembunuhan keponakannya oleh Julian Grenier

Terlepas dari kerja sama antara pasukan Mongol dengan para bawahan Kristennya di Antiokhia, orang-orang Kristen lainnya di Syam melihat strategi pendekatan kepada Mongol dengan gelisah. Jacques Pantaléon, Patriark Yerusalem, menganggap Mongol sebagai ancaman, dan telah menulis surat kepada Paus untuk memperingatkannya tentang mereka pada tahun 1256.[74] Namun, suku Franka mengutus tokoh Dominikan David dari Ashby ke istana Hulagu pada tahun 1260.[56] Di Sidon, Julian Grenier, Bangsawan Sidon dan Beaufort, yang digambarkan oleh orang-orang sezamannya sebagai sosok yang tidak bertanggung jawab dan berkepala dingin, mengambil kesempatan untuk menyerang dan menjarah daerah Lembah Beqaa di wilayah Mongol. Salah satu orang Mongol yang terbunuh adalah keponakan Kitbuqa, dan sebagai pembalasan, Kitbuqa menyerbu kota Sidon. Peristiwa-peristiwa ini meningkatkan ketidakpercayaan antara pasukan Mongol dan Tentara Salib, yang pusat kekuasaannya saat itu berada di kota pesisir Akko.[41][75]

Bangsa Franka di Akko berusaha keras untuk mempertahankan kenetralan dalam konflik antara pasukan Mongol dan Mamluk.[5] Terlepas dari sejarah permusuhan panjang dengan Mamluk, bangsa Franka mengakui bahwa pasukan Mongol merupakan ancaman yang lebih besar, dan setelah pertimbangan yang mendalam, memilih gencatan senjata pasif dengan musuh-musuh mereka sebelumnya. Bangsa Franka mengizinkan pasukan Mamluk untuk bergerak ke utara melalui wilayah Kristen untuk bertempur dengan pasukan Mongol, dengan imbalan sebuah perjanjian bahwa bangsa Franka dapat membeli setiap kuda Mongol yang tertawan dengan harga yang murah.[76][77] Gencatan senjata memungkinkan Mamluk untuk mendirikan perkemahan dan memasok ulang persediaan di dekat Akko, dan bertempur dengan pasukan Mongol di Ain Jalut pada 3 September 1260. Pasukan Mongol sudah kehabisan tenaga karena pasukan utama mereka ditarik mundur, sehingga dengan bantuan pasif dari pasukan Franka, pasukan Mamluk mampu meraih kemenangan atas pasukan Mongol. Sisa tentara Mongol mundur ke Armenia Kilikia, tempat mereka diterima dan dipersenjatai kembali oleh Hethum I.[44] Kemenangan Mamluk di Ain Jalut cukup bersejarah karena menjadi salah satu titik balik dalam sejarah pasukan Mongol: inilah kekalahan pertama mereka dalam sebuah pertempuran besar, dan inilah batas paling barat upaya perluasan wilayah Kekaisaran Mongol yang sebelumnya seolah tak terbendung.[5]

Komunikasi dengan Paus[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 1260-an, terjadi perubahan persepsi bangsa Eropa tentang orang Mongol, dan mereka menjadi tidak begitu dianggap sebagai musuh, dan lebih sebagai sekutu potensial dalam perang melawan kaum Muslim.[78] Padahal sebelumnya pada tahun 1259, Paus Aleksander IV telah menyerukan sebuah perang salib baru melawan pasukan Mongol, dan kecewa berat ketika mendengar bahwa raja-raja Antiokhia dan Armenia Kilikia telah tunduk kepada penguasa Mongol. Aleksander telah memasukkan kasus-kasus para raja tersebut dalam agenda konsili dia yang akan datang, tetapi ia tutup usia pada tahun 1261, hanya beberapa bulan sebelum konsili diselenggarakan dan sebelum perang salib baru dapat dilancarkan.[79] Untuk seorang paus baru, pilihan jatuh pada Pantaléon, Patriark Yerusalem yang sama yang sebelumnya memperingatkan ancaman Mongol. Dia menyandang nama Paus Urbanus IV, dan berusaha mengumpulkan uang untuk sebuah perang salib baru.[80]

Pada 10 April 1262, pemimpin Mongol Hulagu mengirim sepucuk surat baru kepada Raja Louis IX dari Prancis melalui János orang Hongaria, yang sekali lagi menawarkan persekutuan.[81] Surat itu menjelaskan bahwa sebelumnya, orang Mongol memiliki anggapan bahwa paus adalah pemimpin orang-orang Kristen, tetapi sekarang mereka menyadari bahwa kekuasaan sesungguhnya bertumpu pada kerajaan Prancis. Surat itu menyebutkan niat Hulagu untuk merebut Yerusalem untuk kepentingan paus, dan meminta Louis untuk mengirim sebuah armada menghadapi Mesir. Hulagu menjanjikan pengembalian Yerusalem kepada orang-orang Kristen, tetapi juga masih bersikeras tentang kedaulatan Mongol, dalam upaya pasukan Mongol untuk menaklukkan dunia. Tidak jelas apakah Raja Louis benar-benar menerima surat itu atau tidak, tetapi pada suatu waktu, surat tersebut dikirim kepada Paus Urbanus, yang menjawabnya dengan cara yang sama seperti para pendahulunya. Dalam bulla kepausannya Exultavit cor nostrum, Urbanus mengucapkan selamat kepada Hulagu atas ungkapan niat baiknya terhadap agama Kristen, dan mendorongnya untuk masuk Kristen.[82]

Para sejarawan berselisih pendapat mengenai makna sebenarnya dari tindakan Urbanus. Pandangan sebagian besar sejarawan, seperti yang dicontohkan oleh sejarawan Britania Peter Jackson, menyatakan bahwa Urbanus masih menganggap orang Mongol sebagai musuh pada saat itu. Persepsi ini mulai berubah beberapa tahun kemudian, pada masa kepausan Paus Klemens IV (1265-1268), ketika orang Mongol lebih dipandang lebih sekutu potensial. Namun, sejarawan Prancis Jean Richard berpendapat bahwa tindakan Urbanus menandai titik balik dalam hubungan Mongol-Eropa pada tahun 1263, karena sesudah itu orang-orang Mongol benar-benar dianggap sebagai sekutu. Richard juga berpendapat bahwa pasukan Gerombolan Emas bersekutu dengan Mamluk Muslim sebagai tanggapan terhadap pembentukan koalisi antara pasukan Franka, Ilkhanat, dan Bizantium.[83][84] Kendati demikian, pandangan sebagian besar sejarawan adalah bahwa meskipun terdapat banyak upaya untuk membentuk persekutuan, upaya-upaya tersebut terbukti tidak berhasil.[3]

Abaqa (1265–1282)[sunting | sunting sumber]

Hulagu meninggal dunia pada tahun 1265, dan digantikan oleh Abaqa (1234–1282), yang selanjutnya berusaha keras menjalin kerja sama dengan kubu Barat. Meskipun ia seorang Buddhis, setelah naik takhta ia menikahi Maria Palaiologina, seorang penganut Kristen Ortodoks dan putri luar nikah dari Kaisar Bizantium Michael VIII Palaiologos.[85] Abaqa berkirim surat dengan Paus Klemens IV sampai tahun 1267 dan 1268, mengirimkan utusan kepada Klemens dan Raja Chaime I dari Aragon. Dalam sebuah pesan tahun 1268 kepada Klemens, Abaqa berjanji untuk mengirim pasukan untuk membantu orang-orang Kristen. Tidak jelas apakah ini yang menyebabkan ekspedisi militer Chaime yang gagal ke Akko pada tahun 1269.[14] Chaime memprakarsai perang salib kecil, tetapi badai menerjang armadanya ketika mereka mencoba menyeberang dan memaksa sebagian besar kapal untuk kembali. Perang salib tersebut akhirnya dilaksanakan oleh dua putra Chaime, Fernando Sanchez dan Pedro Fernandez, yang tiba di Akko pada Desember 1269.[86] Walaupun sebelumnya sudah menjanjikan bantuan, Abaqa tengah disibukkan oleh ancaman lain, yaitu serangan pasukan Mongol Turkestan ke Khorasan. Akibatnya, ia hanya dapat mengirimkan sedikit pasukan ke Tanah Suci, dan pasukan tersebut tidak dapat berbuat banyak selain mengancam kawasan perbatasan Syam pada Oktober 1269. Mereka menyerang hingga sejauh Harim dan Afamiya pada Oktober, tetapi mundur segera setelah pasukan Baibars bergerak maju.[37]

Perang salib Edward I (1269–1274)[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 1269, Edward sang Pangeran Inggris (kelak menjadi Raja Edward I) terilhami oleh kisah saudara kakeknya, Richard sang Lionheart, dan perang salib kedua Raja Prancis Louis. Alhasil ia memulai perang salibnya sendiri, Perang Salib Kesembilan.[87] Jumlah kesatria dan pengikut yang menemani Edward dalam perang salib ini cukup kecil, mungkin sekitar 230 kesatria, ditambah dengan pengiring menjadi 1.000 orang. Mereka diangkut dalam armada yang terdiri dari 13 kapal.[88][89] Edward memahami pentingnya persekutuan dengan pasukan Mongol, dan setibanya di Akko pada 9 Mei 1271, dia segera mengirim utusan ke penguasa Mongol Abaqa untuk meminta bantuan.[90] Abaqa menjawab positif permintaan Edward, memintanya untuk melakukan koordinasi dengan jenderalnya Samagar, yang memimpin 10.000 tentara Mongol untuk menyerang Mamluk.[37][91] Namun, Edward hanya dapat ikut serta dalam beberapa serangan tanpa berhasil merebut wilayah baru.[87] Misalnya, ketika dia ikut serta dalam serangan ke Dataran Sharon, dia bahkan terbukti tidak mampu merebut benteng kecil Mamluk di Qaqun.[37] Walaupun begitu, operasi militer Edward masih dapat mendorong pemimpin Mamluk, Baibars, untuk menyetujui gencatan senjata 10 tahun antara kota Akko dan Mamluk, yang disepakati pada tahun 1272.[92] Upaya-upaya Edward digambarkan oleh sejarawan Reuven Amitai sebagai "yang paling mendekati kerja sama militer yang nyata antara Mongol-Franka (...)."[93]